Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan dinamika berbeda di jalan raya, pola mobilitas masyarakat cenderung mengalami penyesuaian, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang berbuka puasa. Aktivitas bekerja dan beraktivitas tetap berjalan, namun dengan ritme yang sedikit berbeda dari hari biasa. Dalam situasi tersebut, kesiapan fisik dan mental saat berkendara menjadi hal yang perlu diperhatikan agar setiap perjalanan tetap aman dan nyaman dengan semangat #cari_aman.
Instruktur Safety Riding PT Indako Trading Coy, Wan Muhammad Fahreza, mengingatkan bahwa kondisi tubuh saat berpuasa tentu berbeda dibanding hari biasa. Karena itu, persiapan sejak dini menjadi kunci utama. “Pertama, pastikan sahur yang cukup dan seimbang. Pilih makanan bergizi dengan kandungan serat dan protein agar energi bisa bertahan lebih lama. Hindari makanan yang terlalu manis atau berminyak berlebihan karena bisa membuat tubuh cepat lemas di siang hari,” ujar Fahreza.
Ia menjelaskan, asupan nutrisi yang tepat akan sangat membantu menjaga konsentrasi selama berkendara. Kedua, penting untuk memperbanyak minum air putih saat sahur dan berbuka guna mencegah dehidrasi. Tubuh yang kekurangan cairan cenderung lebih cepat lelah dan dapat memengaruhi fokus di jalan.
Ketiga, istirahat yang cukup juga tidak kalah penting. Menurutnya, kurang tidur dapat memperlambat refleks dan meningkatkan risiko mengantuk saat berkendara. “Usahakan tidur lebih awal agar tubuh tetap bugar. Keselamatan di jalan sangat dipengaruhi kondisi fisik pengendara,” tambahnya.
Memasuki waktu sore hari, mobilitas masyarakat biasanya meningkat. Karena itu, keempat, pengendara disarankan mengatur waktu perjalanan dengan bijak. Jika memungkinkan, hindari perjalanan jarak jauh menjelang waktu berbuka karena lalu lintas cenderung lebih padat. Situasi tersebut kerap memicu ketegangan, sehingga diperlukan kesabaran ekstra agar tetap #cari_aman.
Kelima, pengendalian emosi menjadi hal yang tak kalah penting. Berpuasa bukan alasan untuk bersikap agresif di jalan. Sebaliknya, momen Ramadan dapat menjadi latihan untuk lebih sabar dan menghargai sesama pengguna jalan. “Kami selalu mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan mengedepankan etika berkendara. Semangat Satu Hati harus tercermin dalam perilaku kita di jalan,” ungkap Fahreza.
Selain itu, keenam, penggunaan perlengkapan berkendara lengkap wajib menjadi perhatian. Helm berstandar SNI, jaket, sarung tangan, serta sepatu tertutup berfungsi melindungi tubuh dari risiko cedera. Ketujuh, menjaga kecepatan dan jarak aman juga sangat dianjurkan, mengingat respons tubuh saat berpuasa bisa saja sedikit melambat dibanding kondisi normal.
Terakhir, kedelapan, apabila merasa lelah atau pusing di tengah perjalanan, sebaiknya segera menepi dan beristirahat. Tidak perlu memaksakan diri karena keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lain adalah prioritas utama.
Dengan kesiapan fisik, pengendalian diri, serta kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, setiap perjalanan dapat menjadi bagian dari komitmen bersama untuk terus #cari_aman di jalan raya.

No comments:
Post a Comment